25 C
Makassar
Rabu, Januari 27, 2021

Kasus “Dekkeng Pilkada” Naik ke Sidik, Tersangkanya Sudah Ada

TAJUK.CO.ID, PANGKEP — Proses penyelidikan kasus dugaan pencemaran nama baik institusi Polres Pangkep dengan menyebutkan Mantan Kapolres Pangkep, AKBP Ibrahim Aji sebagai “dekkeng” salah satu calon dalam pilkada Pangkep kini telah memasuki babak baru.

Pelaku yang memposting unggahan tersebut ke media sosial facebook bernama M Syawir M Rhanggalawe. Dia diketahui merupakan simpatisan salah satu calon di Pilkada Pangkep.

Kasus ini sendiri telah naik statusnya ke tahap sidik. Dimana pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka. Hal inj diungkapkan Kapolres Pangkep yang baru, AKBP Endon Nurcahyo saat bertemu wartawan, Selasa, 3 November si salah satu rumah makan.

”Sekarang status kasus sudah dinaikan dalam tahap penyidikan, yang dulunya penyelidikan,” tegas mantan Kapolres Enrekang tersebut.

Sekedar diketahui, postingan akun M Syawir M Rhanggalawe itu di sebar ke grup facebook Diskusi Demokrasi dan Pilkada Pangkep pada 15 Oktober lalu. Dia menuliskan caption “SELAMAT DATANG KAPOLRES PANGKEP AKBP ENDON NURCAHYO S.I.K. SEMOGA MAMPU JADI PENGAYOM YANG BAIK DAN ADIL BUAT SELURUH LAPISAN MASYARAKAT PANGKEP. #MUDAH2N PENGHUNI GROUP INI YANG SDH BERMIMPI DAN BERHAYAL UNTUK MENANG.. TAMBAH RONTOK PALA BOTAKNYA!!! SIAPKAN MEMANG MAKI PARAMEX…HBR DAN KAWAN2 !!! SPIRIT DAN SEMANGAT BARU BUAT PARA MILITANS RAMAH MAGELLOMENTONG.. TIDAK ADAMI DEKKNGNA ITU SANAE”. Dalam postingan itu pun terlihat foto Kapolres Pangkep.

Sebelumnya, mantan Kapolres Pangkep, AKBP Ibrahim Aji menyatakan bahwa dirinya keberatan atas postingan tersebut. Unggahan itu melecehkan institusi kepolisian. Ibrahim Aji pun merasa postingan itu telah melecehkan dirinya, baik secara pribadi maupun instansi.

Kasubbidoras Bidyanmas Baintelkam Polri itu pun berharap persoalan ini bisa menjadi contoh untuk masyarakat, terkhusus warga Pangkep agar bijak dalam bermedia sosial. Dan bila terbukti bersalah, pelaku terancam UU ITE Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun penjara. (SF)