25 C
Makassar
Senin, November 30, 2020

Nelayan Pulau Gondong Bali sukses Antar Anaknya Raih Pendidikan Tertinggi Pelayaran di Dunia

REZEKI tak ada yang tahu. Rezeki memiliki garis tangan tersendiri. Hal itu dibuktikan oleh dua warga Pulau Gondong Bali, Desa Mattiro Matae dalam meraih sukses saat ini.

Laporan: Syahrul Fahmi, Pangkep

HUJAN baru saja menyapa laut. Rintik-rintik yang turun tampak menutup pandangan menatap kapal yang berada di perairan Kecamatan Liukang Tuppabiring, Pangkep.

Tampak beberapa nelayan menyandarkan kapalnya di Sabtu, 9 Oktober 2020. Mereka baru saja berlabuh usai menerjang ombak untuk menangkap ikan.

Anak-anak mulai berlarian di senja yang tak terlihat karena hujan. Mereka menarik satu-persatu kapal yang membawa beberapa hasil tangkapan para nelayan pulau Gondong Bali.

Rutinitas ini dilakukan para anak-anak yang masih berusia belasan tahun tersebut setiap harinya. Mereka tampak semangat membantu orang tua mereka yang pulang melaut saat sekolah usai.

Pengalaman ini pun telah dilalui pemuda bernama Tayyub dan Fadli. Siapa sangka dua orang yang saat ini telah hidup mapan tersebut pernah melalui rutinitas yang terbilang berat itu.

Apalagi hasil tangkapan tersebut menjadi modal mereka dalam meraih mimpi saat ini. Cita-cita mereka memang tetap di laut, tapi bukan sebagai nelayan, melainkan bekerja di sebuah perusahaan kapal besar.

Untuk mencapai itu, syarat pendidikan yang tinggi menjadi kewajiban. Dan terbukti, garis tangan keduanya yang sejak kecil bermain dengan laut membuat mereka bisa diterima di suatu perusahan perkapalan dunia.

Bahkan beberapa bulan lalu, keduanya yang memang menjadi sahabat karib mencatatkan nama mereka sebagai orang yang berhasil meraih pendidikan tertinggi di bidang sekolah pelayaran dunia yakni Ahli Teknika Tingkat – I (ATT-I) di Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar.

Ini menjadi kebanggan. Bukan hanya untuk keluarga mereka, tapi untuk kabupaten Pangkep sendiri. Tak banyak orang yang berhasil meraih pendidikan tinggi di sekolah pelayaran hingga tingkat tertinggi tersebut.

Apalagi keduanya merupakan warga kepulauan yang kebanyakan terbatas di pendidikan. Keberhasilan mereka menjadi contoh nyata bahwa pendidikan bisa diraih dengan tekad yang kuat.

Salah satu dari mereka, Tayyub mengatakan bahwa dirinya bisa berhasil sampai sejauh ini tak lepas andil dari orang tua, saudara dan teman-temannya.

Dia berkisah, di saat kecil dirinya tak pernah berfikir bisa sampai sejauh ini untuk pendidikan. Apalagi orang tuanya merupakan seorang nelayan yang penghasilannya tak menentu dan kadang kurang dari kebutuhan.

“Saya ingat pesan orang tua. Pendidikan itu nomor satu. Dengan pendidikan kamu akan berhasil. Dengan pendidikan derajatmu akan terangkat. Alhamdulillah pesan orang tua itu menjadi keyakinan saya hingga saat ini,” katanya.

Saat menimba ilmu, dirinya berucap sering mengalami Maslah utamanya di biaya. “Orang tua terkadang pinjam uang untuk menutupi kebutuhan pendidikanku. Alhamdulillah semuanya terbayarkan dengan prestasi dan kebanggan ini,” ujar putra dari pasangan H Hasus dan H Hunane tersebut.

Secara terpisah, H Hasus mengaku dirinya saat ini bisa dikata orag paling bahagia. Sebab capaian dari anaknya ini menjadi pelecut semangat untuk masyarakat lainnya agar tak mengesampingkan pendidikan.

“Alhamdulillah pesan yang saya sampaikan ke anak saya bisa ditanam dengan baik. Dia membuktikan dirinya bisa melanjutkan pendidikan hingga selesai,” katanya.

Dia pun berkisah bahwa dirinya kini menikmati buah dari keberhasilan anaknya. Memberangkatkan dirinya ke tanah suci, membangunkan rumah hingga membiayai pendidikan adik-adik dari Tayyub.

“Ini bukti pendidikan itu akan mengubah seseorang. Saya berpesan ke dia untuk tak mengikuti jejak saya sebagai nelayan. Alhamdulillah dia membuktikannya sekarang,” kenangnya.

Kisah dari Fadli pun tak jauh berbeda dari Tayyub. Dirinya memang merupakan sahabat dari Tayyub hingga pendidikan mereka berdua selesai.

“Orang tuaku juga nelayan. Kami sama-sama dari nol. Kami sama-sama memberanikan diri ke darat untuk melanjutkan pendidikan. Alhamdulillah kita semua berhasil sampai saat ini,” ujar putra dari Pasnagan H Tajuddin Daho dan HJ Badaria Bandu itu.

Kepala Desa Mattiro Matae, Rizal Idris mengaku bahwa apa yang dicapai oleh warganya itu akan menjadi motivasi bagi dirinya untuk mengubah mainset masyarakat pulau agar memprioritaskan pendidikan.

“Insya Allah visi misi desa kita yakni Berbenah, Maju dan Mandiri akan mengakomodir pendidikan. Pemerintah desa pun akan mendukung sepenuhnya bagi warga yang ingin melanjutkan pendidikan hingga selesai,” ujarnya. (*)