25 C
Makassar
Minggu, Oktober 25, 2020

SEMBUH

Laporan: Silahuddin Genda, Wartawan Senior dan Komisaris Utama Tajuk.co.id

BAGI saya, tidak ada berita yang lebih menggembirakan dari pada ini; “Anda bersama istri sudah bisa pulang hari ini. Hasil Swab terakhir Anda dinyatakan negatif,” ucap dr Fitri, dokter yang bertugas di RS Sayang Rakyat, saat memasuki kamar saya di Asoka F lantai tiga rumah sakit rujukan Covid-19 ini.

Spontan istri saya menengadahkan tangan sambil berucap; “Alhamdulillah… Ya Rabb. Dia menangis sesunggukan sebagai tanda haru bahwa kami berdua sudah dinyatakan sembuh dari virus Covid-19. Tentu semua ini tak lepas dari inisiatif kami berdua untuk ke rumah sakit, dan penanganan yang baik pula dari tenaga kesehatan.

Selama perawatan, saya mendapat tujuh kali Swab/PCR. Empat kali positif, tiga kali negatif (sampel 4, 6, dan 7), sedangkan istri saya empat kali swab; dua kali positif, dan dua terakhir juga negatif. Dia sebenarnya pasien OTG (orang tanpa gejala) – setelah sepekan saya dirawat — sehingga menjalani perawatan di salah satu hotel di Makassar. Tiga hari di hotel, dia merasa gelisah dan mata terasa berat dipejamkan. Selain memikirkan kondisi saya yang kesulitan tidur di pekan pertama, juga ingatan ke anak-anak saya di rumah.

Pun, saya memutuskan untuk memindahkan ke RS. Sayang Rakyat –sekalipun tak ada keluhan klinis. Saya berusaha mencari jalan agar bisa bersama-sama. Kami pun berdua menempati kamar VIP yang dipisahkan tembok. Beberapa hari pisah kamar, saya memohon ke pihak rumah sakit untuk menyatukan dalam satu kamar dengan bed terpisah. Dengan kondisi ini, saya bisa saling menyemangati, agar imun kami makin kuat.

Begitu hasil swab ke-4 saya terima negatif, istri saya menangis. Dia menyangka saya akan pulang lebih dulu dalam beberapa hari ke depan bila hasil uji pemeriksaan sampel swab ke-5 saya negatif dan dinyatakan bisa pulang. Rupanya, positif. Saya harus menunggu satu pekan untuk uji sampel lagi. Jadwal swab saya berselang dua hari lebih cepat dibanding istri saya, tapi saya meminta saja mundur. Harapan saya, agar bisa bersama-sama pulang. Dokter bisa memahami. Tapi, kekhawatiran saya tetap menggelayut apabila saya lebh cepat pulang dari dia. Pun, dia berpikir begitu. Insha Allah, saya tetap komitmen bila saya lebih dulu dinyatakan negatif, maka saya akan tetap setia menunggu sampai istri saya bisa pulang. Rupanya, Allah menghendaki kami untuk bersama-sama pulang ke rumah.

Awal saya masuk rumah sakit, banyak rekan yang menelepon mengapa Anda mengumumkan diri sebagai pengidap virus Corona? Saya hanya bisa membalas dengan kondisi fisik lemah, adakah yang salah? Bagi saya, itu sangat baik. Paparan virus Covid-19 bukanlah penyakit pribadi biasa atau aib. Ini wabah. Yang masyarakat umum harus lebih banyak tahu. Karena itu membuka diri, dan siapa saja bisa terpapar.

Saya bukan seorang tokoh, tapi punya banyak teman. Saya hanya khawatir jika teman saya yang selama itu punya interaksi dengannya bisa ikut terpapar. Karena itu perlu saya umumkan ke public – sekalipun lewat media social – yang belakangan media mainstream ikut mewartakan.

Kita juga patut memuji beberapa tokoh lokal dan nasional yang mengumumkan dirinya terpapar virus mematikan ini. Sebutlah mantan Rektor Unhas Prof Idrus Paturusi, dan itu sangatlah baik. Contoh lain dilakukan seorang gadis di Inggris. Dia membuka diri kepada media, SkyTv. Publik bisa belajar banyak dari gadis yang menceritakan kesehatan dirinya terkait virus Corona itu saat liburan di Italia Utara — kawasan Lombardi – medio Februari 2020, yang belakangan diketahui sebagai basis penderita virus Corona di negara itu.

Sejak awal saya dirawat, saya tetap berdoa dan optimistis akan bisa melewati masa kesendirian itu – sekalipun belakangan istri saya ikut terpapar, dan ikut dirawat dalam ruang yang sama. Di kesendirian itu, pikiran saya melayang-layang dan penuh was-was – apalagi sebelumnya — di IGD melihat banyak pasien yang sesak, bahkan ada menggunakan ventilator. Hampir setiap hari, bunyi sirine ambulance keluar masuk dari rumah sakit itu. Pikiran saya; kalau bukan masuk, pasti ke kuburan tanpa ada keluarga yang melihatnya.

Bersyukur, saya hanya sekitar 30 menit di IGD untuk selanjutnya dibawa ke perawatan lantai tiga – lantai yang dianggap “zona aman” — yang pasiennya memiliki tingkat kesembuhan cukup besar. Di lantai ini pula, pasien rata-rata tidak punya gejala klinis setelah melewati masa-masa perawatan di lantai satu atau dua.

Optimisme ini juga berkat dukungan yang diberkan keluarga, kerabat, teman-teman dari luar baik lewat chat Whatsapp maupun telepon langsung. Mereka mendoakan dan tidak sedikit mengirim suplemen untuk penguat imun. Dokter dan tenaga kesehatan di rumah sakit Sayang Rakyat juga punya andil yang cukup luar biasa yang setiap saat memberi kami semangat untuk bisa sembuh dan kembali bersama keluarga. Tentu juga dengan berbagai obat penawar yang sudah terjadwal dengan baik.

Kini, setelah meninggalkan rumah sakit, kami berdua untuk sementara tinggal di rumah Makassar sekaligus melakukan isolasi mandiri beberapa hari ke depan, sebelum saya menemui anak dan keluarga yang ada di Pangkep. Setelah wabah ini berakhir, harapan saya sangat sederhana; hanya ingin kembali berkumpul bersama keluarga dan memeluk teman-teman seerat-eratnya. (*)

RS Sayang Rakyat, Makassar, 2 Juli 2020