26 C
Makassar
Sabtu, Februari 27, 2021

Sepekan Pascabencana, Korban Puting Beliung Belum Tersentuh Bantuan

TAJUK.CO.ID, PANGKEP — Musibah Puting beliung yang terjadi di Kabupaten Pangkep sejak pekan lalu masih menyisakan duka bagi para korban. Kondisi mereka kian diperparah oleh pemerintah setempat yang belum mengeluarkan bantuan buat mereka.

Alasannya pun beragam. Salah satunya masalah prosedur pencairan anggaran dari pemerintah daerah kabupaten Pangkep yang berbelit. Tak instan meski berstatus dana darurat.

Seperti yang diutarakan salah satu kerabat korban bencana puting beliung, Arfan Aidin. Menurutnya sampai saat ini bantuan dari pemerintah belum tersalurkan. Padahal bencana telah berlalu sejak sepekan lalu.

“Saya tak tahu apa penyebabnya sampai lama sekali bantuan dari pemerintah belum ada. Padahal kondisi korban sudah sangat kritis pascabencana,” katanya.

Mahasiswa sekaligus aktivis Asal Pulau Kecamatan Kalmas itu merasa jenuh dan kecewa kepada pemerintah kabupaten pangkep. Apalagi pemerintah pangkep diduga lambat loding dalam menangani insiden bencana yang baru baru terjadi di kalmas barat, sala satu pulau terluar pangkep.

“Harusnya pemkab, bergegas mengatasi atau membantu saudara-saudara kita yg baru-baru ini ditimpa musibah. Di sana itu pulau kecil, jauh dari daratan, jadi kalau tidak ada tindakan cepat dari pemerintah bisa-bisa warga di san kelaparan,” katanya.

Dia pun mengungkapkan bahwa info terbaru yang didapatnya adalah ketersedian bahan pokok yang menipis. “Kondisi di sana sangat parah. Masyarakat di sana juga sudah tidak bekerja di laut karna masi dalam keadaan trauma. Apalagi cuaca sangat ekstrem,” katanya.

Angin Hancurkan 132 Rumah

Bencana angin puting beliung sendiri menerjang hampir seluruh wilayah Pangkep. Dampak terparah terletak di kecamatan pulau Liukung Kalmas. Di sana tercatat 132 rumah porak poranda. Diantaranya terdapat Puluhan rumah yang rata dengan tanah akibat diterjang angin kencang.

Saat ini para korban pun ada yang menumpang di tetangganya untuk berteduh dari hujan. Ada pula yang tetap menempati rumahnya meski sudah mengalami rusak parah.

Menurut Kapolsek Liukang Kalmas, AKP Nompo, bahwa saat ini warga di sana sedang gotong royong untuk saling membantu. Tapi dengan kondisi seadanya.

“Warga masih menunggu bantuan. Sampai saat ini memang belum ada bantuan yang sampai. Kalau kondisi warga, mereka masih truama dan sangat butuh uluran tangan. Kami dari Polsek pun siap mengawal jika ada masyarakat yang hendak membantu warga pulau,” katanya.

Pemkab Saling Lempar Tanggungjawab

Pemerintah Kabupaten Pangkep sendiri masih bergelut dengan penyaluran bantuan. Di pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangkep sendiri belum bisa menyalurkan bantuan dengan alasan pihak bagian Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) belum mencairkan anggaran bantuan.

PLT Kepala BPBD Pangkep, Kallang Ambo Dalle mengaku bahwa pihaknya telah melaporkan terkait adanya musibah tersebut. Dia pun telah menyurat untuk pencairan anggaran dana darurat namun belum mendapat kepastian.

“Kami sudah melapor. Tapi memang anggarannya belum cair. Kalau sudah cair tentu kami langsung bergerak. Apalagi kondisi di sana sangat mendesak,” ucapnya.

Secara terpisah, Kepala BPKD, Jumliati mengaku belum bisa mencairkan anggaran bencana tersebut disebabkan adanya ketidaklengkapan berkas yang disodorkan oleh BPBD Pangkep terkait pencairan dana darurat.

“Pihak BPBD belum melengkapi dokumennya. Mereka hanya melaporkan adanya bencana yang sifatnya insidentil. Bagaimana kita mau cairkan dananya sedangkan besaran anggaran dan jumlah korbannya juga tidak rinci. Hanya menyampaikan adanya musibah. Seandainya lengkap tentu akan langsung kita cairkan pada saat itu juga,” katanya.

Insiatif Warga, Swadaya Galang Dana

Akibat carut marutnya proses pencairan bantuan dari pemerintah hingga membuat korban bencana mulai kelaparan membuat warga menggelar aksi penggalangan dana di beberapa titik.

Seperti mahasiswa yang rutin menggalang dana untuk segera disalurkan ke korban.

“Kami sudah Galang bantuan. Pemerintah tak bisa terlalu diandalkan saat seperti ini. Nanti saat ada maunya apalagi kepentingan politik, baru pemerintah cepat bergerak. Kami kecewa dengan pemerintah. Sehingga itu kami menggalang dana sendiri untuk segera diberikan ke korban yang ada di pulau,” kata Ardan Aidin. (Sf)